Kelakuan “sok ide”,nonton drama teater gratisan sama mama di TIM. – View on Path.



Karena sekarang udah bukan guru PAUD jadi udah gak punya adek-adekan lagi.
:p – View on Path.


Thought via Path

Anak Pertama itu namanya Putu/Wayan.
Anak Kedua itu namanya Kadek/Made.
Anak Ketiga itu namanya Nyoman/Komang.
Anak Keempat itu namanya Ketut.

Bisa jadi bahan pembuka obrolan dengan bilang, “Kamu anak ke … ya?”

Makasih ya Kadek atas informasinya. – Read on Path.



Belum terbayang apa yang akan terjadi selama 2 bulan nanti.Menghabiskan waktu bersama makhluk-makhluk yang tidak karuan perangainya tetapi punya rasa cinta yang tidak terukur terhadap negrinya. with wengky, Fidella, Ditha, Melisa Dwi, Naluri, Ashri, Stoki, and anggi at Cafe Eatology – View on Path.


Thought via Path

"Kepo itu asalnya dari kata kaypoh. Itu bahasa hokkien. Artinya ya kepengen tau urusan orang"

Jadi bukan Knowing Every Particular Object,karena orang barat gak ada yang tau artinya KEPO.

Makasih stoki. – Read on Path.



Karena makhluk ekstrovert itu butuh energi dari dunia luar jadi gak betah lama-lama di rumah. – View on Path.



PPKI dan Satria Garuda Bima

"Karena memaafkan adalah tradisi luhur Bangsa Indonesia."

Ini adalah efek yang ditimbulkan dari kehadiran saya pada acara POPCON ASIA 2014. Muncul sebuah analogi dari pemikiran yang dangkal dan penuh asumsi bahwa Satria Garuda Bima adalah PPKI-nya dunia superhero Indonesia. Kalau ada yang lupa apa itu PPKI, saya pun demikian, namun akan saya ingatkan seingat saya. PPKI merupakan singkatan dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan punya nama keren Dokuritsu Junbi Inkai. PPKI ini walaupun diisi oleh tokoh-tokoh golongan tua dari Indonesia, namun dianggap sebagai produk buatan Jepang oleh Syahrir sebagai jagoannya golongan muda yang cinta akan kemerdekaan murni tanpa campur tangan asing.

Mirip dengan Satria Garuda Bima yang menurut saya produk hasil kerjasama antara Indonesia dan Jepang.
Hadirnya Bima Satria Garuda dan mengaku sebagai superhero Indonesia, membuat para kreator dan pecinta superhero asli Indonesia seperti panas hati, sehingga saat ini mereka berlomba untuk membuat dan atau menghidupkan karakter superhero Indonesia yang asli, salah satunya Gundala Putra Petir dan Garuda yang akan segera tayang di bioskop. Hal ini mirip dengan peristiwa saat itu, golongan muda yang menjadi panas karena dikatakan proklamasi harus melalui rapat PPKI dan Jepang menginginkan proklamasi 24 Agustus, mereka tidak ingin proklamasi terkesan merupakan hadiah dari Jepang. Mungkin begitu juga pandangan para kreator dan pecinta superhero di Indonesia mereka tidak mau dianggap bahwa superhero Indonesia adalah buah dari kebaikan orang Jepang.

Tapi bagaimanapun juga Satria Garuda Bima sangat berjasa membangkitkan superhero Indonesia di layar kaca setelah terakhir Panji Manusia Milenium dan Saras 008 yang sempat nge-hits sampai ada action figurenya. Begitu juga PPKI kalau saja tidak ada dia mungkin saja para golongan tua akan mengikuti keinginan Jepang dan tidak akan ada desakan dari para golongan muda untuk mempercepat Proklamasi.

Bagaimanapun juga Jepang bukan selamanya musuh, coba bayangkan jika tidak ada Tadashi Maeda di mana naskah proklamasi akan dirumuskan, bayangkan jika tidak ada Ishimori mungkin tidak akan ada superhero kualitas bagus seperti bima dan gundala mungkin tidak akan dibuat filmnya, bayangkan jika tidak ada AKB48 pasti tidak akan ada JKT48. Ah sudah mulai meracau.

Jadilah pemaaf tapi bukan pelupa, karena itu saya tidak lupa untuk pamit sama Satria Garuda Bima X sebelum berangkat menuju medan perang, walaupun foto salamannya tidak jelas karena saya juga baru terpikir untuk pose foto salaman.

Berdasarkan kalender saya bisa menonton Satria Garuda Bima X sebanyak 5 episode lagi, setelah itu anggap saja saya tidak bisa menonton aksinya di layar kaca.
Maafkan saya, BIMA X, semoga kamu mewariskan tradisi luhur Bangsa Indonesia.
Semoga kita bisa bersama menumpas kejahatan dan kebodohan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Karena Iri Itu Lumrah

Keringat baru saja mengering dari badan yang hitam legam ini. Akhir-akhir ini saya mulai membiasakan diri untuk berkeringat setiap hari dengan lari dari kenyataan pagi-pagi. Karena sebagai seorang pengangguran yang kabarnya akan segera dimasukkan ke kawah candradimuka, sebelum akhirnya diteleportasikan ke remote area. Saya dipesankan untuk mulai membiasakan diri berolahraga agar badan sudah tidak kaget saat harus menghadapi berbagai kejutan kegiatan di pelatihan.

Lebih sulit mengakhiri daripada memulai, begitu pandangan saya pada kebiasaan, setelah selesai olahraga, saya pun mulai stalking. Sudah bukan zamannya stalking mantan karena itu sama seperti membasuh luka dengan air garam, ya walaupun ada sensasi sakit tersendiri dan bisa menjadi pengingat bahwa hidup itu perih. Tapi saya lebih suka mengamati perkembangan teman-teman yang tidak terlalu dekat dengan saya, karena kalau teman dekat pasti sudah tahu tentang kabar beritanya, walau ini juga membuat sakit karena otomatis saya akan membandingkan diri saya dengan berbagai capaian mereka,tapi sakitnya mungkin seperti sakitnya kuda pacuan dicambuk yang berefek pada si kuda sehingga  berlari semakin cepat, teorinya mungkin begitu walau pada kenyataannya semua kembali pada kapasitas diri setiap kuda dalam merespon cambukan dan kemampuannya untuk melakukan akselerasi.

Oke kita cukupkan membahas kuda. Jadi berdasarkan hasil stalking, teman-teman saya banyak yang sudah menambahkan nama kampus baru mereka dibarengi  nama negara tempat tinggal yang baru di media sosial. Sebagian besar mendapatkan beasiswa dari LPDP. Sungguh hebat mereka pikirku karena mau berkutat lagi dengan penjelasan dosen yang kadang dengan bahasa ibu saja sulit dimengerti, jurnal-jurnal maut yang tulisannya kecil dan gambarnya tidak menarik, dan setau saya beasiswa LPDP mengamanahkan penerimanya untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia dengan ilmu yang didapat karena yang digunakan adalah uang rakyat. Makinlah mereka terlihat super.

Selanjutnya yang paling membuat iri adalah ketika stalking senior yang hanya terpaut 2 angkatan sudah mampu membuat perusahaan yang sudah banyak memberikan manfaat untuk masyarakat yang kurang mampu. Lalu terbesit pikiran, apa saja yang mereka sudah lakukan saat seumuran denganku, dan ketika 2 tahun mendatang apakah aku bisa menebar manfaat sama banyaknya dengan mereka?

Kebiasaan mentolerir akan kelemahan diri saya pun muncul, saya pernah mendengar "Sama seperti bunga yang indah dengan warnanya masing-masing, manusia pun punya kelebihan masing-masing", lalu karena bunga itu tanaman saya pun membuat analogi baru bahwa mereka yang telah sukses seperti tanaman bayam yang sudah bisa dipanen oleh masyarakat saat 21 hari setelah tanam, sedangkan saya adalah tanaman jati yang harus menunggu bertahun-tahun untuk dapat dipanen oleh masyarakat.

Tapi saya bukan tanaman, saya manusia yang harus memupuk diri sendiri agar bisa segera memberi manfaat. Jadi biarlah rasa iri ini menjadi bahan untuk membuat pupuk yang bisa saya gunakan untuk menumbuhkan potensi dalam diri yang saya pun tidak tahu itu apa saja.

Kemudian saya teringat lagi dengan jalan kebahagiaan abadi, di mana kebahagiaan kita adalah di saat kita mampu membuat orang lain bahagia. Mungkin saya akan bahagia saat saya berada di jalan mahasiswa penerima beasiswa di luar negri dan/atau seorang sociopreneur, tetapi jalan itu masih sangat gelap. Jalan kebahagiaan yang mulai terlihat saat ini adalah jalan sebagai seorang pengajar muda. 

Walau masih sangsi akan kapasitas diri untuk menanggung amanah ini,tetapi ini pasti konspirasi Allah untuk melatih saya agar lebih mencintai keluarga dan negri ini beserta rakyat-rakyatnya, sebelum nantinya saya menjadi penerima beasiswa di luar negri yang amanah terhadap uang pinjaman rakyat dan menjadi seseorang yang bisa lebih banyak memberi manfaat untuk rakyat Indonesia.



Ketemu Azazel-azazelan di Popcon Asia. – View on Path.



Semangat terus Mas Sweta,semoga istiqomah,ditunggu chapter Nusantaranger berikutnya.
Makasih tanda tangannya. – View on Path.


197
To Tumblr, Love PixelUnion